Laman

Kamis, 29 Maret 2012

KHULAFAUR RASYIDIN


KHULAFAUR RASYIDIN

Khulafaur Rasyidin merupakan penerus serta pemegang kepemimpinan Islam setelah Rasulullah saw. wafat. Khulafaur Rasyidin mengandung makna orang-orang yang terpilih serta mendapatkan petunjuk untuk menggantikan Nabi Muhammad saw. sebagai pejuang penyiar ajaran agama Islam setelah beliau wafat. Namun, Khulafaur Rasyidin bukan sebagai nabi ataupun rasul.

A.    Keberhasilan yang Dicapai oleh Khulafaur Rasyidin
Khulafaur Rasyidin berasal dari kata khulafā’ dari Khalifah yang mempunyai makna pemimpin. Sedangkan ar-rāsyidīn mengandung makna mendapatkan petunjuk. Dari peengertian di atas, Khulafaur Rasyidin memiliki arti para pemimpin yang mendapatkan petunjuk.

1.      Khalifah Abu Bakar as-Siddiq (11-13 H/ 632-634 M)
Abu Bakar as-Siddiq merupakan keturunan dari Abu Quhafah. Abu Bakar as-Siddiq lahir pada tahun ke-2 dari tahun gajah, sehingga dua tahun lebih muda dari Nabi Muhammad saw. Abu bakar as-Siddiq terpilih sebagai penerus Rasulullah saw. setelah beliau wafat untuk memimpin umat Islam serta mengurusi persoalan umat. Abu Bakar as-Siddiq banyak melakukan berbagai macam usaha untuk memajukan pemerintahan Islam. Usaha-usaha tersebut antara lain:

a.       Memerangi kaum murtad atau pembangkang
Di awal masa pemerintahan Abu Bakar as-Siddiq, banyak muncul berbagai macam permasalahan yang dapat mengganggu stabilitas pemerintahan Islam. Namun dalam praktiknya, Abu Bakar as-Siddiq selalu berpesanuntuk tetap mengadakan pendekatan kepada masyarakat dengan cara damai, sehingga tidak terjadi perlawanan yang lebih besar. Tidak semua kaum murtad menolak pendekatan secara damai dari umat Islam. Tetapi, tidak sedikit pula yang terang-terangan menolak justru mereka mengajak perang. Kelompok yang secara terang-terangan mengajak perang tersebut biasanya dipimpin oleh orang yang mengaku dirinya sebagai nabi atau dikenal sebagai nabi palsu. Di antara nabi-nabi palsu tersebut antara lain:
1)      Aswad al-Ansi
2)      Tulaihah bin Khuwailid al-Asadi
3)      Malik bin Nuwairah
4)      Musailamah al-Kazab
b.      Pembukuan Al-Qur’an
Pada awalnya, ayat-ayat Al-Qur’an masih dituliskan pada benda-benda yang berserakan seperti kulit, kayu, dan pelepah daun kurma. Atas nasehat Umar bin Khattab kepada Abu Bakar as-Siddiq mengumpulkan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut untuk dijadikan satu dalam bentuk sebuah kitab. Zaid bin Sabit sebagai pemimpin pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang masih berserakan tersebut. Hasil dari pengumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang sudah selesai menjadi mushaf, kemudian disimpan oleh Khalifah Abu Bakar as-Siddiq. Setelah Khalifah Abu Bakar as-Siddiq meninggal, mushaf tersebut disimpan oleh putri dari Umar bin Khattab dan juga salah satu istri Nabi Muhammad saw.
c.       Ekspansi Kekuasaan Islam (perluasan wilayah)
Ada beberapa hal yang dijadikan pedoman utama para juru dakwah dan para tentara Islam dalam melakukan perluasan wilayah penyebaran ajaran agama Islam, atau memasuki wilayah baru yang akan dijadikan tempat penyebaran agama Islam, diantaranya yaitu:
1)      Dianjurkan masuk Islam, maka jiwa serta hartanya akan mendapat perlindungan.
2)      Boleh tidak memeluk ajaran agama Islam, tetapi harus membayar jizyiah maka jiwa dan hartanya akan dilindungi.
3)      Jika melakukan perlawanan terhadap umat Islam maka akan diperangi.

Wilayah-wilayah yang menjadi wilayah kekuasaan Kerajaan Persia dan Kerajaan Bizantium menjadi daerah-daerah yang menjadi sasaran penyebaran ajaran agama Islam. Atas dasar itu, Khalifah Abu Bakar as-Siddiq mempunyai keinginan untuk menguasai wilayah tersebut, dengan cara memerintahkan dua panglimanya yang bernama Khalid bin Walid dan Musanna bin Harisah. Abu Bakar as-Siddiq memerintahkan Khalid bin Walid untuk ikut serta membantu pasukan Bizantium untuk menguasai wilayah Suriah.
Dalam perkembangannya, Kerajaan Bizantium menjadikan Kota Damaskus, di Suriah sebagai pusat pemerintahan di kawasan wilayah Arab dan daerah-daerah sekitarnya. Dalam peperangan tersebut, pasukan Islam berjumlah 18.000 orang, sedangkan pasukan Romawi yang akan dilawan berjumlah 240.000 orang. Melihat kondisi yang demikian, Khalifah Abu Bakar as-Siddiq memerintah Khalid bin Walid untuk membawa pasukan menuju Syam. Keberanian pasukan muslim semakin bertambah setelah bergabungnya pasukan yang dibawa oleh Khalid bin Walid, akhirnya pertempuran terjadi di dekat Sungai Yarmuk. Ketika peperangan berlangsung, terdengar kabar bahwa Khalifah Abu Bakar as-Siddiq meninggal dunia dan beliau digantikan oleh Umar bin Khattab dan Khalid bin Walid digantikan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah. Perang Yarmuk ini akhirnya dimenangkan oleh pasukan Islam.

2.      Khalifah Umar bin Khattab
Umar bin Khattab menjadi Khalifah tidak berdasarkan pemilihan maupun musyawarah bersama secara terbuka, melainkan Umar diangkat menjadi Khalifah atas penunjukan atau wasiat serta kepercayaan yang diberikan oleh Abu Bakar as-Siddiq. Umar bin Khattab juga dikenal sebagai seorang sosok yang tegas dalam menghadapi masalah. Atas sikap yang tegas seperti itu, maka Umar bin Khattab diberikan gelar oleh Rasulullah saw. dengan sebutan al-Faruq, yang artinya pemisah atau pembeda. Umar bin Khattab banyak menghasilkan berbagai prestasi ketika menjabat sebagai Khalifah, prestasi-prestasi tersebut antara lain:

a.       Ekspansi wilayah (perluasan wilayah)
Ketika pemerintahan Umar bin Khattab, umat Islam melaksanakan perluasan wilayah kekuasaan Islam secara besar-besaran. Perluasan secara besar-besaran ini lebih dikenal dalam sejarah Islam dengan sebutan Futuhal al-Islamiyah. Wilayah Islam pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab semakin banyak dan luas, serta wilayah-wilayah di Eropa timur. Karena wilayah kekuasaan Islam semakin luas, maka untuk memudahkan pengawasan jalannya pemerintahan, Khalifah Umar bin Khattab membagi wilayah kekuasaan Islam menjadi beberapa wilayah provinsi dengan dipimpin seorang Gubernur. Wilayah yang dibagi menjadi delapan provinsi, yaitu:
1)      Muawiyah bin Abu Sufyan, Gubernur Suriah, dengan ibukota Damaskus
2)      Nafi’ bin Abu Haris, Gubernur Hijaz, dengan ibukota Mekah
3)      Abu Musa al-Asy’ary, Gubernur Iran, dengan ibukota Bashrah
4)      Mughirah bin Su’bah, Gubernur Irak, dengan ibukota Kufah
5)      Amr bin As, Gubernur mesir, dengan ibukota Fustat
6)      Alqamah bin Majaz, Gubernur Palestina, dengan ibukota Jerussalem
7)      Umair bin Said, Gubernur Jazirah Mesopotamia, dengan ibukota Hims
8)      Khalid bin Walid, Gubernur di Suriah Utara dan Asia Kecil
b.      Penataan administrasi dan keuangan negara
Pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, dibentuklah suatu lembaga yang diberi nama “Baitul Mal” serta “Dewan Perang”. Baitul Mal mengelola masalah yang berkenaan dengan keuangan negara, mengelola keluar masuknya keuangan mulai dari provinsi-provinsi sampai tingkat pusat, dengan pengawasan yang sangat ketat dan hati-hati. Sedangkan, Dewan Perang mengurusi masalah pencatatan administrasi militer.
Keuangan yang ada di Baitul Mal dapat digunakan untuk memberikan pembayaran gaji kepada para pegawai pemerintahan serta gaji untuk tentara, yang pembayarannya harus disesuaikan dengan pangkat dan kedudukannya. Keuangan yang ada di Baitul Mal tidak hanya untuk membayar gaji para pegawai, tetapi juga untuk memberikan santunan kepada rakyat miskin.
c.       Penetapan kalender Hijriah
Khalifah Umar bin Khattab mempunyai pendapat sendiri untuk penetapan dimulainya kalender Islam, yaitu saat Nabi Nabi Muhammad saw. melakukan hijrah, sebab dari hijrah itulah umat Islam mengawali kemenangannya (sebagai titik balik kemenangan umat Islam). Umar bin Khattab wafat pada hari Rabu, tanggal 2 Zulhijjah 23 H karena dibunuh oleh Abu Lu’lu’ah. Beliau ditikam dengan sebilah pisau yang telah dilumuri dengan racun.



3.      Khalifah Usman bin Affan
Usman bin Affan adalah seorang saudagar yang berhasil sehingga beliau banyak mempunyai harta yang berasal dari Mekah. Hartanya banyak yang digunakan untuk mendukung dakwah yang dilakukan Nabi Muhammad saw. dalam menyiarkan ajaran agama Islam. Umat Islam memberikan julukan kepada Khalifah Usman bin Affan dengan sebutan Zun Nurain yang memiliki maksud memeiliki dua cahaya. Julukan tersebut diberikan kepada Usman bin Affan setelah beliau menikahi putri kedua dan ketiga Rasulullah saw. yaitu Ruqayah dan Ummu Kulsum. Usman bin Affan menjadi Khalifah menggantikan Umar bin Khattab, yaitu pada tahun 23 H. Usman bin Affan terpilih menjadi Khalifah atas pembicaraan enam anggota dewan yang dibentuk oleh Umar bin Khattab. Usman bin Affan ketika dipilih sebagai Khalifah berusia 70 tahun. Beliau memimpin umat Islam selama 12 tahun. Keberhasilan-keberhasilan yang dicapai oleh Khalifah bin Affan, antara lain:

a.       Pembukuan mushaf Al-Qur’an
Usman bin Affan membentuk sebuah panitia yang akan menyusun Al-Qur’an. Kepanitiaan yang akan menyusun Al-Qur’an tersebut dipimpin oleh Zaid bin Sabit, serta beranggotakan Abdullah bin Zubair dan Abdurrahman bin Haris. Tugas dari panitia tersebut adalah menyalin kembali ayat-ayat Al-Qur’an ke dalam sebuah kitab yang dinamakan “mushaf”. Atas kebijakan dari panitia, mushaf diperbanyak menjadi lima mushaf. Satu mushaf berada di kota Madinah, sedangkan yang empat lainnya dikirim ke berbagai wilayah-wilayah lain, yaitu ke Mekah, Suriah, Basra dan Kufah.mushaf yang tetap tinggal di Madinah dinamakan “Mushaf al-Imam” atau Mushaf Usmani.
b.      Renovasi (pemugaran) Masjid Nabawi
Masjid Nabawi yang merupakan masjid pertama yang didirikan oleh Rasulullah saw. mulai di renovasi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab. Pada masa pemerintahan Usman bin Affan dilakukan perluasan masjid. Selain diperbaiki secara fisik atau bangunannya, masjid tersebut juga direnovasi masalah bentuk serta corak dari masjid tersebut sehingga akan kelihatan lebih bagus dan indah.
c.       Pembentukan angkatan laut
Pada waktu pemerintahan Usman bin Affan, kekuasaan Islam sudah sangat luas hingga ke Afrika, Siprus, sampai Konstantinopel. Agar wilayah-wilayah tersebut tetap dalam penjagaan serta pengawasan tentara Islam, maka Muawiyah bin Abu Sufyan sebagai Gubernur Suriah mengajukan usulan untuk membentuk angkatan laut. Oleh Khalifah Usman bin Affan tersebut mendapat respons positif. Islam datang ke Indonesia juga melalui jalur laut.
d.      Ekspansi wilayah
Perluasan wilayah kekuasaan Islam yang dilakukan umat Islam pada masa pemerintahan Usman bin Affan sudah sangat luas, perluasan wilayah telah sampai ke wilayah Azerbaijan yang dipimpin oleh Said bin As dan Huzaifah bin Yaman. Sedangkan wilayah lain yang berhasil dikuasai oleh pasukan umat Islam adalah wilayah Armenia yang dipimpin oleh Salam bin Rabi’ah al-Bahiy.

4.      Khalifah Ali bin Abi Talib (35-40 H / 656-661 M)
Ali bin Abi Talib menjadi Khalifah menggantikan Usman bin Affan yang meninggal dibunuh oleh kaum munafik. Khalifah Usman dibunuh dirumahnya sendiri oleh kaum munafik ketika beliau sedang puasa sunah dan sedang membaca Al-Qur’an. Dalam masa kepemimpinannya, banyak prestasi yang dicapainya. Prestasi Khalifah Ali bin Abi Talib, antara lain:

a.       Mengganti pejabat pemerintahan yang kurang cakap
Khalifah Ali bin Abi Talib banyak mengganti para pejabat yang kurang cakap dalam bekerja. Ali bin Abi Talib menginginkan bentuk sebuah pemerintahan yang efektif serta efisien.
b.      Membenahi keuangan negara (Baitul Mal)
Para pejabat yang digantikan oleh Khalifah Ali bin Abi Talib ternyata banyak mendapatkan harta kekayaannya dengan cara yang tidak benar menurut agama. Oleh Khalifah Ali bin Abi Talib, harta-harta yang diperoleh para pejabat pemerintahan yang digantikannya tersebut disita, kemudian diserahkan kepada Baitul Mal untuk dikelola dengan sebaik-baiknya.
c.       Memajukan ilmu bahasa
Pada masa pemerintahan Ali bin Abi Talib, mulai dikembangkan ilmu nahwu, yaitu ilmu yang mempelajari tentang tata bahasa Arab. Dengan pembelajaran ilmu nahwu tentunya banyak manfaatnya, diantaranya orang-orang non-Arab dapat mempelajari Al-Qur’an dan hadis dengan baik dan benar, karena kedua sumber hukum Islam tersebut menggunakan bahasa Arab.
d.      Memajukan pembangunan
Fokus pembangunan yang pertama kali dilakukan oleh Khalifah Ali bin Abi Talib adalah membangun Kota Kufah. Banyak ahli sejarah yang mengatakan bahwa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin adalah kepemimpinan yang paling mendekati tipe kepemimpinan Rasulullah saw. dalam memimpin umat Islam dan pemerintahan Islam.

B.     Ibrah Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Dari perjalanan kepemimpinan yang dijalankan oleh Khulafaur Rasyidin, kita sebagai umat Islam dapat mengambil beberapa pelajaran atau ibrah yang sangat berharga untuk kehidupan umat Islam. Khalifah Abu Bakar as-Siddiq merupakan sosok pemimpin yang tegas serta teguh dalam menjalankan kebenaran. Kita dapat pula mencontoh terhadap Khalifah Umar bin Khattab sebagai peletak dasar-dasar demokrasi dalam Islam.
Usman bin Affan dalam memimpin umat Islam selalu menyelesaikan permasalahn dengan mengutamakan pendekatan secara persuasif. Khalifah yang terakhir, Ali bin Abi Talib, dalam kepemimpinannya selalu bersikap tegas, disiplin, serta memiliki watak yang agak keras ketika harus membela sebuah kebenaran. Dari Khulafaur Rasyidin dengan berbagai prestasi-prestasinya, kita dapat mengambil suatu hikmah atau ibrah yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk kepentingan masa sekarang dan juga untuk masa yang akan datang, antara lain:
1.      Umat Islam hendaknya selalu menjadikan Nabi Muhammad saw. sebagai figur panutan dalam segala urusan kehidupan.
2.      Umat Islam hendaknya dapat menjaga persatuan dan kesatuan.
3.      Umat Islam diharapkan selalu memiliki semangat kerja dan etos kerja yang tinggi, sebagaimana yang ditunjukkan oleh Khulafaur Rasyidin dalam mengemban amanat untuk menyiarkan ajaran agama Islam.

C.    Strategi Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Strategi serta karakteristik kepemimpinan keempat Khalifah dalam Khulafaur Rasyidin berbeda satu sama lain. Abu Bakar as-Siddiq lebih mengedepankan kelembutan dan ketegasan, walaupun suasana pemerintahan sedang kacau. Sikap yang seperti ini diperlukan ketika mendapatkan permasalahan dalam jalannya pemerintahan.
Umar bin Khattab selalu bersikap tegas, cerdas, serta harus mementingkan kepentingan rakyatnya. Untuk membangun dasar-dasar negara yang kuat serta memiliki corak masyarakat uang Islami, dibutuhkan seorang pemimpin yang cerdasdalam menjalankan pemerintahannya. Usman bin Affan seorang pemimpin Islam yang memiliki sifat saleh, penyantun, serta selalu sabar dalam menghadapi persoalan. Sifat serta karakteristik seperti Usman bin Affan sangat diperlukan dalam membangun masyarakat yang santun serta saleh sehingga negara dapat memakmurkan rakyatnya.
Pada masa kepemimpinan Ali bin Abi Talib mengalami kondisi negara yang kacau. Pada kondisi ini, dibutuhkan pemimpin yang memiliki sikap tegas persoalan serta selalu mengutamakan kebenaran. Karakter yang seperti itu ada pada diri Khalifah Ali bin Abi Talib, beliau tegas dalam membela kebenaran seperti apa yang dilakukan Khalifah Umar bin Khattab.

D.    Meneladani Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Nabi Muhammad saw. meninggal dunia tanpa meninggalkan pesan tentang siapa yang akan menggantikan beliau menjadi pemimpin umat Islam yang akan meneruskan dakwah Islam. Akhirnya, umat Islam yang terdiri dua kelompok, yaitu Ansar dan Muhajirin, berkumpul bersama di Saqifah Bani Sa’idah untuk membicarakan siapa yang akan menggantikan Rasulullah saw. Dalam musyawarah tersebut, Abu Bakar as-Siddiq dipilih sebagai pengganti Rasulullah saw.
Banyak peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar as-Siddiq yang menunjukkan beberapa hal dan prinsip, antara lain:
1.      Pengangkatan Abu Bakar as-Siddiq berlangsung melalui syura atau musywarah.
2.      Perbedaan pendapat yang terjadi di Saqifah Bani Sa’idah adalah hal yang lumrah dalam musyawarah.
3.      Nasihat Ali bin Abi Talib agar Abu Bakar tidak ikut serta dalam menumpas kaum murtad itu adalah suatu bukti bentuk pengakuan Abu Bakar as-Siddiq sebagai Khalifah.
4.      Sikap tegas Abu Bakar terhadap kaum yang murtad merupakan bukti adanya hikmah bahwa Allah swt. mengangkat orang yang tepat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.
5.      Pengangkatan Umar bin Khattab sebagai pengganti Abu Bakar adalah hasil musyawarah dari kaum muslimin, bukan penunjuk dari Abu Bakar.

Pada masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin, pemerintahan Islam telah berhasil melakukan perluasan wilayah kekuasaan yang sangat luas, serta dilakukan dengan cepat sampai ke daerah-daerah yang sangat jauh dari pusat pemerintahan Islam. Faktor-faktor yang menyebabkan ekspansi atau perluasan wilayah kekuasaan Islam dapat sangat cepat, antara lain:
1.      Islam, disamping merupakan ajaran yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, Islam juga agama yang mementingkan soal-soal kemasyarakatan.
2.      Dalam diri para sahabat, tertanam keyakinan tentang kewajiban menyerukan ajaran-ajaran Islam (dakwah) ke seluruh penjuru dunia.
3.      Kerajaan Bizantium dan Kerajaan Persia yang ketika menjadi dua kekuatan yang menguasai timur tengah mulai melemah, memasuki masa kemunduran.
4.      Pertentangan masalah agama di wilayah Kerajaan Bizantium menyebabkan hilangnya kemerdekaan beragama bagi rakyatnya.
5.      Islam datang ke daerah-daerah yang dimasukinya dengan sikap yang simpatik serta toleran, tidak memaksakan rakyatnya untuk mengubah agamanya dan masuk agama Islam.
6.      Bangsa Sami di Syira dan Palestina dan Bangsa Hami di Mesir menganggap Bangsa Arab lebih dekat dengan mereka dari pada bangsa Eropa, Bizantium yang menguasai mereka.
7.      Mesir, Suriah dan Irak adalah daerah-daerah yang kaya.

E.     Gaya Kepemimpinan Khulafaur Rasyidin
Karakteristik dari keempat Khulafaur Rasyidin dalam menjalankan kepemimpinannya berbeda-beda, dipengaruhi oleh situasi dan kondisi negara. Abu Bakar memiliki karakter yang lemah lembut. Ketika kondisi negara dalam keadaan kacau, dengan kelembutannya, Abu Bakar as-Siddiq berhasil menyadarkan orang-orang yang terbujuk untuk berbuat menentang pemerintah.
Umar bin Khattab memimpin ketika negara dalam keadaan lebih aman dan tentram. Kepemimpinannya dilakukan dengan cerdas, tegas dan mengutamakan kepentingan rakyatnya. Usman bin Affan, memerintah ketika kondisi negara dalam suasana sudah aman. Sifat penyantun serta sabar sangat dibutuhkan sekali dalam memimpin negara besar. Pada masa transisi atau peralihan dari Khalifah Usman kepada Khalifah Ali bin Abi Talib, negara kembali dalam keadaan kacau. Ketegasan Ali bin Abi Talib serta sikap yang selalu mengutamakan kebenaran sangat dibutuhkan dalam menjalankan kepemimpinannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar